|
Indonesia Sudah Siap Punya Nuklir |
|
|
|
|
Thursday, 29 July 2010 23:54 |
International Atomic Energy Agency (IAEA) atau badan energi atom dunia di bawah naungan PBB menegaskan bahwa Indonesia sudah siap memiliki energi bertenaga nuklir. "Penegasan itu dikemukakan pada November 2009," kata Deputi Bidang Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir BATAN Dr Taswanda Taryo di kampus ITS Surabaya, Rabu (28/7). Ia mengemukakan hal itu dalam seminar tentang "Teknologi dan Keselamatan PLTN" yang menampilkan Prof Mukhtasor PhD dari Dewan Energi Nasional (DEN) dan Ian Love dari Atomic Energy of Canada Limited (AECL).Menurut Taswanda Taryo, penilaian badan energi atom dunia itu menunjukkan Indonesia lebih memiliki kesiapan dalam energi nuklir dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. "Penilaian IAEA itu meliputi empat kesiapan yakni sumber daya manusia, pemangku kepentingan (stakeholder), industri, dan regulasi, karena kami (BATAN) memang sudah melakukan serangkaian penelitian sejak tahun 1980-an," katanya. Dengan penilaian itu, katanya, Indonesia sudah harus memasuki fase yang lebih nyata yakni proyek nuklir itu sendiri. "UU 17/2007 sudah mengamanatkan adanya pemanfaatan nuklir di Indonesia pada kurun waktu 2015-2019, sehingga paling lambat kita sudah memiliki PLTN pada tahun 2019," katanya. Oleh karena itu, pihaknya membentuk "BATAN Incorporation" yang melibatkan pemangku kepentingan seperti BATAN, ESDM, Kemristek, LIPI, PLN, KLH, Kementerian Perindustrian, dan sebagainya. "Mereka tergabung dalam Tim Pengembangan PLTN yang akan menentukan proyek PLTN secara teknis, seperti menentukan industri sebagai owner, teknologi, lokasi, perizinan, dan sebagainya," katanya. Ia mengatakan owner itu paling tidak akan terbentuk pada tahun 2011, namun bentuknya belum jelas, apakah BUMN atau swasta murni. "Yang jelas, kalau lokasi kami sudah melakukan penelitian sejak tahun 1980-an. Intinya, lokasi harus di pantura untuk menghindari lempengan bumi," katanya. Ditanya lokasi yang dimaksud, ia mengatakan BATAN sudah meneliti 70 lokasi, lalu disaring menjadi 14 lokasi dan sekarang tinggal empat lokasi, di antaranya Ujung Bumi (Jepara), Banten, dan Bangka Belitung. Sementara itu, anggota DEN Prof Mukhtasor PhD mengatakan pihaknya sudah melakukan serangkaian dialog dengan kelompok yang pro dan kontra dengan PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir). "Pihak kontra itu umumnya mempersoalkan keselamatan dengan mencontohkan Chernobyl, padahal teknologi nuklir sekarang sudah sangat berbeda. Chernobyl itu teknologi usang. Dampak itu selalu ada, tapi kalau dampak dilarang ya pembangunan akan berhenti," katanya. Dosen FTK ITS Surabaya itu menambahkan hal yang terpenting adalah pembangunan dengan dampak terkendali, karena batubara akan habis 2020 dan pertumbuhan penduduk Indonesia menuntut segala bentuk energi mulai dari energi laut, surya, panas bumi, dan nuklir. (mediaindonesia.com)
|
|
|
Monday, 24 May 2010 12:11 |
 WARNA merah pada lampu rem sebuah kendaraan menandakan peringatan pada kendaraan yang berada di belakangnya agar selalu berhati-hati.
Bukan hanya pada lampu rem, lampu lalu lintas dan lampu menara-menara tinggi pun memilih warna merah sebagai tanda peringatan yang paling mutlak.
Di bumi ini, kita hidup dikelilingi atmosfer. Cahaya yang melewati atmosfer akan dihamburkan. Besarnya penghamburan cahaya tergantung dari warnanya. Warna merah adalah warna yang paling sedikit dihamburkan, sehingga dapat merambat dengan jarak yang lebih jauh dibandingkan warna lainnya. Dengan begitu, setiap orang dapat melihat tanda peringatan dan bisa berhati-hati dari jarak jauh agar tidak terjadi benturan yang tidak diinginkan. ( Yohanes Surya)
|
|
|
Friday, 26 March 2010 10:10 |
MATA adalah alat indra untuk melihat. Mata dapat menangkap cahaya untuk menghasilkan sebuah gambar yang selanjutnya diterjemahkan oleh otak. Mata memiliki lensa yang berfungsi untuk mengatur fokus cahaya yang datang agar bayangan benda jatuh tepat di retina. Ketebalan setiap lensa berubah-ubah untuk mengatur fokus sesuai dengan jarak benda yang dilihat. Tebal-tipisnya lensa mata dikendalikan oleh otot-otot pada mata. Jika otot-otot tersebut berkontraksi, maka lensa mata akan menipisdan sebaliknya. Otot mata dapat melemah karena faktor usia atau cara membaca yang salah. Jika otot mata ini tidak bekerja dengan baik, maka bayangan benda tidak jatuh tepat di retina dan mata Anda pun berlu dibantu dengan lensa kacamata. (Yohanes Surya/rmb)
|
|
|